Thursday, August 20, 2015

Membangun Tanpa Menggusur, Mungkinkah ?

Membangun Tanpa Menggusur, Mungkinkah ?


Sudah menjadi rahasia umum dan kebiasaan bahwa pembangunan pasti memerlukan pengorbanan, baik itu berupa materi, waktu, tenaga maupun pemikiran. Hanya saja, yang sering terjadi selama ini pengorbanan sejati hanya dimiliki oleh rakyat kecil yang notabene adalah kaum miskin.Memang menjadi hukum alam kalau sesuatu yang kecil menjadi kalahan karena digencet sama yang besar. kalau istilah jawa "Asu gedhe menang Kerahe"

Pengorbanan pembangunan yang paling dirasa menyakitkan (bagi rakyat kecil) adalah ketika dia di usir dari tanah kelahirannya, tempat tinggal dari kecil hingga beranak pinak karena alasan pembangunan. Berbahagialah jika tanahnya legal yang dibuktikan dengan adanya secarik sertifikat, ganti untunglah yang akan menghampirinya. Tapi sekali lagi, itu tidak akan terjadi pada orang kecil.  Sebesar-besarnya kertas sertifikat yang dimilikinya akan menjadi kecil jika berhadapan dengan orang besar yang diwakili oleh pejabat-pejabat yang menyalahgunakan wewenangnya ataupun calo dan makelar tanah yang menjadi kepabjangan tangannya.

Sebenarnya, sejak dari jaman dulu kala banyak orang yang berteriak-teriak agar pembangunan yang dilaksanakan tidak harus dengan menggusur hak milik rakyat kecil. Istilah kerennya membangun tanpa menggusur. Tapi apakah mungkin hal itu terjadi?

Sebenarnya mungkin saja apabila kekumuhan, ketidakteraturan, kebodohan dan semua kekurangan rakyat kecil tidak dipelihara oleh negara melalui pejabat-pejabat yang diberi wewenang mengatur rakyatnya.  Ketika rakyat kecil dibiarkan utuk melanggar aturan, menunjukkan kekurangannya secara merdeka tanpa adanya interfensi dari pihak berwenang, niscaya penggusuran sudah mulai direncanakan. Karena sesungguhnya dalam setiap penggusuran terkandung penganggaran yang cukup besar yang terbagi untuk benyak pihak (kecuali rakyat kecil tadi). 

So, bagi para pejabat, pemangku kepentingan jangan jadikan rakyat kecil sebagai obyek penderita, jangan biarka mereka memiliki kebodohan, kekurangan dan kejumudan. Kalau ada yang salah tegurlah dari awal, jangan malah diberi fasilitas untuk terus melakukan kesalahan.

3 comments:

  1. memang ujung ujung nya yang salah pemerintah, tapi kan mereka gonta ganti terus..
    dan dengan iklim demokrasi seperti sekarang, masyarakat seringkali berpikir... coba kalau bukan dia yang mimpin.... repot jg sih =)

    ReplyDelete
  2. Semua yang kamu dapatkan hari ini adalah hasil dari apa yang kamu kerjakan. Lebih baik apa yang kamu kerjakan, maka akan lebih banyak pula hasil yang akan kamu dapatkan.

    ReplyDelete

Silahkan berkomentar dengan sopann dan bertanggung jawab