Sunday, March 30, 2014

Kehilangan Tempat Bermain

 Kehilangan Tempat Bermain


Dulu waktu masih kecil, yang namanya permainan anak-anak begitu sering dilakukan. Ada yang namanya nekeran (stin), jamuran, gobag sodor, jepitan, bentik, dakon, sudah manda, lompat tali, jetungan, ingklo, gamparan dan lain sebagainya. Dan hampir semua anak bisa memainkan permainan yang bersifat kolosal ini demi kebersamaan.

Beda halnya sekarang, anak-anak lebih mengenal pleistesyen alias PS, nitendo, time zone, kids fun, fantasia dan permainan lainnya yang rata-rata bersifat soliter. Gimana mau tahu permainan tradisional diatas, la wong lahan yang biasa digunakan untuk bermain saja sudah hilang. Lapangan-lapangan semakin terdesak, apalagi lahan pekarangan termasuk halaman yang dulunya jadi tempat berkumpul dan bermainnya anak-anak.

Beruntunglah bagi manusia yang tinggal di pedesaan karena meskipun sedikit setidaknya masih ada lahan terbuka yang bisa digunakan untuk tempat bermain anak-anak. Bagi yang tinggal dikota, untuk mengatasi kejenuhan sementara waktu dengan bermain di tempat-tempat yang dipaksanakan untuk wahana permainan anak-anak di mall ataupun wahana permainan modern lainnya. 

Dan waktu libur adalah pelampiasan yang tepat untuk pergi ke luar kota mencari tempat yang lapang dan enak untuk area bermain. Tak heran mereka rela bermacet-macet ria untuk pergi ke pantai untuk sekedar main pasir, ke gunung melihat pemandangan alam, ke taman, tempat permainan air ataupun kebun binatang asal anak-anak mereka bisa bermain.

Semoga kita terus peduli dengan kebutuhan bermain anak-anak kita


16 comments:

  1. Apa mau dikata, lapangan sekarang sudah jarang, angankan permainan tradisional, Lha sepakbola pun sekarang mainnya di dalam ruangan.. Oalah, jagad dewo bathoro

    ReplyDelete
  2. Iya ya permainan tradisional memang butuh lahan luas

    ReplyDelete
  3. Bentik? Apa yang kayu dilempar itu? Kalo tempatku namanya jentik hehe

    ReplyDelete
  4. Iya kasihan melihat anak2 sekarang. kekurangan tempat bermain yang membantu mereka belajar bersosialisasi. Walau saat saya kecil juga main sudah di jalanan karena tdk ada halaman lagi

    ReplyDelete
  5. Untung anak2 masih ada sawah untuk dilihat :D

    ReplyDelete
  6. Tinggal nunggu waktu, punahnya permainan2 tradisional itu..... :(

    ReplyDelete
  7. Butuh para pemerhati spt dik doang di kandang joerang

    ReplyDelete
  8. kalau di kota memang sudah sulit mencari lahan untuk bermain, kalau ke mall...permainan yang tersedia sifatnya hanya game belaka tanpa ada unsur edukasi seperti permainan tradisionil warisan leluhur kita,
    orang tua harus bisa kreatif menyiasati kurangnya lahan bermain untuk anak2....demi masa depan anak2 itu sendiri...
    keep happy blogging always...salam dari Makassar :-)

    ReplyDelete
  9. Lucunya, ponakan yang tinggal di pusat Jakarta dia sampe bilang mau ke Semarang karena cuman pengen main bola. Duh kasian bener.

    ReplyDelete
  10. mantap gan (y) Keep posting!
    Kumpulan Cerita Dewasa Terbaru

    ReplyDelete
  11. Saya juga merasa beruntung, Mas, karena terlahir di desa.

    ReplyDelete
  12. ini semua harus dipertanyakan kepada pemerintah, krn mereka telah membuat anak asosial..

    ReplyDelete
  13. jaman.berubah. Positipnya, anak jmn sekarang. Putih2 ganteng2 cantik2, mulus2.. Dulu item. Dekil. Ingusan, korengan dll..

    ReplyDelete
  14. ane malah kangen nih sama mainan tradisional itu. Ingat waktu jaman masih kecil :)

    ReplyDelete
  15. kepingin ach sesekali ngenalin permainan lamaku... biar anak-anak gak saling soliter memegang gadget ataupun bermain di area bermain mesin itu

    ReplyDelete
  16. kasihan ya anak-anak jaman sekarang

    ReplyDelete

Silahkan berkomentar dengan sopann dan bertanggung jawab