Sunday, October 12, 2008

MENIKAH DIATAS MUSIBAH

MENIKAH DIATAS MUSIBAH


Dalam sudut pandang agama, menikah merupakan salah satu bentuk ibadah. Mungkin kita membayangkan sebagai ibadah yang paling mengenakkan karena didalamnya mengandung suatu malam yang paling indah. Pernikahan yang diikuti dengan pesta biasanya dibuat dengan meriah dan mewah. Tak peduli menghabiskan berapa rupiah, yang penting semua tampak megah.

Beberapa hari yang lalu, kita dihebohkan dengan adanya pesta pernikahan yang konon –katanya menghabiskan dana bermilyar-milyar rupiah (Bayangkan saja bila dibelikan kwaci bunga matahari, pasti semua rakyat indonesia akan bisa merasakan rasa asinnya). Tapi berhubung si empunya yang punya hajat mampu ya bagaimana lagi, kita hanya bisa menonton sambil membayangkan akankah pernikahan kita (anak kita) kelak bisa mengikuti mode seperti itu. Jika dipikir-pikir memang layak, terlahir sebagai keluarga pengusaha yang kaya raya berbagai fasilitas tentu bisa didapat dengan mudah. Kemenakan dari orang paling kaya dimana orang (yang seharusnya) nomor satu di negara kitapun bisa tunduk dibawah manis ketiaknya.

Bukannya iri atau dengki dengan pesta (atas) peribadatan tersebut, tetapi apabila mengingat sepak terjang bisnis keluarga pengusaha tersebut pasti kita semua akan merasa muak. Keuntungan usaha yang diperoleh dengan cara merampas hak-hak orang lain digunakan untuk bersenang-senang dan menjamu penguasa-penguasa negeri yang seharusnya melindungi rakyatnya.

Mereka tidak sadar jika makanan yang disajikan di piring-piring mereka sebenarnya adalah daging rakyat yang ditaburi tepung dari lumpur. Mereka tidak akan mampu merasakan jika makanan tersebut dimasak dan digoreng menggunakan lumpur hitam yang dipaksakan menjadi minyak. Mereka seharusnya muntah jika tahu kalau minuman yang tersulang di tangan-tangan mereka adalah perasan keringat masyarakat yang menuntut pengembalian harta-harta paling berharga yang dimilikinya.

Dan saya yakin kalau sepasang pengantin baru yang sedang berasyik-asyik menikmati malam pertamanya, tidak menyadari kalau gerakan-gerakan yang mereka lakukan bersumber dari dukungan tangan-tangan yang menengadah di sepanjang jalan untuk mendapatkan sesuap makanan. Mereka pasti tidak menyadari kalau cairan-cairan yang mereka hasilkan telah menenggelamkan harapan bagi sekelompok orang yang justru tidak bisa merasakan kenikmatan-kenikmatan sebagaimana mereka rasakan.

Semoga Yang Di Atas bisa mendengar doa orang-orang yang teraniaya oleh saudara-saudara mereka.

3 comments:

  1. titip iklan
    http://www.strategibisnis.com/?id=mandiri

    ReplyDelete
  2. Menikah di atas penderitaan rakyat... [ oamer.com ]

    ReplyDelete
  3. Hello there webmaster, I really like your wordpress weblog and I located you via Google. I also operate a few wordpress blogs and thought you would possibly desire to check out this plugin for wordpress that will provide you with plenty more site visitors to your site. It can be assisted me a ton on my sites and because We have some adsense ad’s its starting to make me some income that is constantly a fantastic point :)

    ReplyDelete

Silahkan berkomentar dengan sopann dan bertanggung jawab