Fenomena menarik yang pertama adalah saat-saat menjelang pileg kemarin. Makhluk-makhluk Tuhan yang paling suci (menurut versi mereka sendiri) menonjolkan dirinya masing-masing untuk maju dalam pileg. Bak pahlawan, mereka mengumbar kelebihan mereka masing-masing dan menyimpan rapat-rapat kebusukan dan keburukan yang mereka miliki. Mereka saling berpacu untuk menunjukkan kepada masyarakat luas bahwa mereka adalah makhluk Tuhan yang Paling Suci diantara caleg-caleg yang lain
Dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam dunia kerja, fenomena ini juga sering kita jumpai. Pengalaman pribadiku sampai saat ini adalah ada teman kerja yang memiliki sifat menarik. Bak makhluk Tuhan yang paling suci, dia mencari, membuat daftar dan menyebarkan kekurangan dan keburukan teman-teman kerjanya (termasuk aku). Padahal dia sendiri sebenarnya masih banyak kekurangan dan keburukan yang bahkan semua teman kerja sudah mengetahui, sehingga diberhentikan dari tempat kerja.
Minggu-minggu ini kita diguncang dengan adanya berita besar berkaitan dengan pembunuhan salah satu direktur perusahaan yang cukup terkenal di jakarta. dan yang paling mengejutkan, pembunuhan tersebut melibatkan salah satu makhluk Tuhan yang seharusnya paling suci karena diberi mandat untuk menumpas korupsi yang sudah akut di negara kita. Ternyata dia juga tidak bisa memegang amanah dari kita semua untuk dijadikan sebagai panutan dan perwakilan dari seluruh rakyat Indonesia dalam menjaga Harta dan martabat bangsa
Dan jangan heran apabila beberapa hari mendatang akan muncul lagi manusia-manusia yang memproklamirkan diri sebagai Makhluk Tuhan yang Paling Suci se-Indonesia. Mereka akan mempertaruhkan kesucian mereka untuk menjadi orang nomer satu di negara kita.
Pencerahan yang harus kita resapi kali ini adalah agar kita bertanya kepada kata hati masing-masing, apakah manusia yang mengaku sebagai Makhluk Tuhan yang Paling suci tersebut benar-benar layak untuk kita pilih sebagai sahabat, panutan dan pimpinan kita.
