Showing posts with label The unique place. Show all posts
Showing posts with label The unique place. Show all posts

Tuesday, June 21, 2011

Jalan Kartini di Negeri Belanda

 Jalan  Kartini di Negeri Belanda



Pada tanggal 21 April lalu, Belanda tidak memperingati Hari Kartini seperti di Indonesia. Namun demikian, nama Kartini cukup dikenal di Belanda sebagai pejuang hak-hak perempuan.
Maklum, Kartini memang lebih dulu dipopulerkan oleh orang Belanda dan terutama di Belanda, baru kemudian di Hindia Belanda, kelak jadi Indonesia. Berikut ini beberapa kota di Belanda yang punya Kartinistraat, atau Jalan Raden Adjeng Kartini.

Utrecht Jalan RA Kartini terletak di kawasan tenang dengan perumahan apik dan kebanyakan dihuni kalangan menengah. Jalan utama ini berbentuk 'U' yang ukurannya lebih besar dibanding jalan-jalan yang menggunakan nama tokoh perjuangan lainnya seperti Augusto Sandino, Steve Biko, Chez Geuvara, Agostinho Neto.

Venlo Di Venlo, Belanda Selatan, RA Kartinistraat berbentuk 'O' di kawasan Hagerhof, di sekitarnya terdapat nama-nama jalan tokoh wanita Anne Frank dan Mathilde Wibaut.
Amsterdam Amsterdam, ibukota Belanda, juga mengabadikan nama penjuang hak-hak perempuan Jawa di abad 17 itu. Wilayah Amsterdam Zuidoost atau yang lebih dikenal dengan Bijlmer, Jalan Raden Adjeng Kartini ditulis lengkap. Di sekitarnya adalah nama-nama wanita dari seluruh dunia yang punya kontribusi dalam sejarah: Rosa Luxemburg, Nilda Pinto, Isabella Richaards.

Haarlem Paling menarik mengamati letak jalan Kartini di Haarlem. Di sana Jalan RA Kartini berdekatan dengan Jalan Mohammed Hatta, Jl Sutan Sjahrir dan langsung tembus ke Jalan Chris Soumokil, presiden kedua Republik Maluku Selatan (RMS).   Di Belanda, tanggal 21 April tidak ubahnya dengan hari-hari lainnya. Pasangan Peters yang tinggal di Kartinistraat di Utrecht tahu bahwa Kartini adalah seorang Jawa yang berjuang untuk persamaan hak wanita.

Mereka juga tahu bahwa Kartini adalah wanita Jawa pertama yang menuntut pendidikan yang lebih tinggi. Ia menyayangkan bahwa Kartini meninggal pada usia yang terlalu muda.
"Dia adalah pejuang persamaan derajat pria dan wanita. Sayang sekali dia meninggal pada usia muda," kata Peters. Selebihnya, mereka tidak tahu bahwa tanggal 21 April adalah hari kelahiran pahlawan Indonesia  ini.
Kartini lahir pada 21 April 1879 di Jepara, Jawa Tengah dan meninggal pada usia 25 tahun. Salah satu buku kumpulan surat RA Kartini ditulis dalam bahasa Belanda, Door duisternis tot licht diterjemahkan menjadi, "Habis Gelap Terbitlah Terang".
Menurut Dr Liliek Suratminto, pakar Sastra Belanda di Indonesia, Door duisternis tot licht lebih cocok lain. "Jadi sebenarnya, 'Melalui kegelapan menuju ke arah yang terang'. Kalau 'Habis Gelap Terbitlah Terang' itu lebih cocok sebagai slogan PLN (Perusahaan Listrik Negara),"  katanya.
Menurut Suratminto, sebenarnya tekanannya harus lebih pada perjuangan. "Terang itu didapat melalui jalan yang gelap dulu baru mendapat titik terang, itulah yang dicita-citakan Kartini," ungkap dosen Universitas Indonesia itu. (Sumber: Aneh Indah )

Saturday, June 4, 2011

Negara dengan Jalan paling menyesatkan

Negara dengan Jalan Paling Menyesatkan


Negara maju, biasanya memiliki sarana prasarana yang lengkap, termasuk sarana prasarana jalannya. Akan tetapi, ada salah satu negara yang masuk dalam katagori negara maju justru memiliki kualitas prasarana jalan yang kurang memadai, sehingga mampu menyesatkan warga negara lain yang datang berkunjung. 

Alkisah, lebih dari 25 orang warga negara kita yang tersesat di negara ini. Mungkin karena jalan-jalan disana yang penuh semak belukar laksana di hutan belantara atau karena luasnya negara ini sehingga memiliki jalan yang sangat panjang sehingga menyulitkan penggunanya. Disinyalir warga negara kita tersebut lupa jalan pulang setelah berkunjung ke negara itu, yaitu Singapura. Bahkan sampai presiden, dubes, polisi  hingga KPK pun kesulitan untuk mencari mereka yang tersesat agar bisa kembali ke rumah masing-masing.

Tuesday, November 23, 2010

Indonesia Undersea

What scientists found when they surveyed the waters of the Raja Ampat Islands six years ago set off an international alert for their preservation. The archipelago's reefs were not just rich—the region would prove to have the greatest coral reef biodiversity for its size in the world. Even a short initial voyage confirmed more than 450 species of reef-building coral, nine newly discovered. The entire Caribbean, by contrast, holds fewer than 70 species. With so many of the world's reefs destroyed or suffering catastrophic decline, efforts to safeguard this treasure went into high gear.

One of the first divers to get an inkling of the abundance that lay below wasn't a scientist but an adventurer named Max Ammer, who came to the sparsely populated Raja Ampat Islands from the Netherlands in 1990 looking for abandoned jeeps and sunken aircraft from World War II. He stayed for the coral and carved out two eco-resorts on the small island of Kri. In 1998 he guided renowned Australian ichthyologist Gerry Allen on a few dives. "Each dive was a mini-exploration," says Gerry. "A light snapped on in my brain, and I thought: This is it."

Gerry lobbied Conservation International (CI) to conduct a marine survey. Both the region's remoteness and the political turmoil in Indonesia had made it difficult to study these waters systematically, but in 2001 Gerry was among the scientists gathered by CI to make a rapid assessment of Raja Ampat. His intuition had been spot-on. The survey brought Raja's fish species count to an astounding 970; Gerry set a record for personally counting 283 species on one dive. Follow-up surveys coordinated by CI and the Nature Conservancy added to Raja's species count in fish, corals, and other marine life, and confirmed that this biological frontier was an El Dorado of coral reefs.

But these are not all vacation-poster reefs bathed in bright, gentle waters. This is an unruly frontier. Fortified with plankton, key to the reefs' fecundity, the waters are often murky and veiled, churned by currents so powerful you feel as if you're diving in a washing machine and so dizzying with life that the scene could have been painted by Jackson Pollock.

As diving partner Jennifer Hayes and I swam over the lip of a reef off a rocky islet near Kri, the sea changed from lighthearted blue to brooding green. Purple fields of leather coral rippled as the current came at us like threatening gusts of wind. Reaching a protected undercut, we entered a grove of orange, red, and yellow sea fans surrounded by a pink and purple hedge of soft corals. Swarms of orange anthias fish hovered at the edge of the current, while a squadron of plate-size batfish patrolled the perimeter of the soft coral garden.

Running low on air, I pushed off to return to the boat and spun into the propelling current, one hand on my cameras, one hand stretching for the boat's ladder, which I caught like a trapeze artist. The islet itself was trailing a wake from the current whipping around it. It's easy to believe the local tale that during World War II the Americans bombed this islet at dusk, thinking it was a Japanese patrol boat steaming across the bay.
(© 2010 National Geographic Society. All rights reserved. )

Tuesday, August 24, 2010

Batik Gedog, cindera mata dari Tuban

 Batik Gedog, cindera mata dari Tuban


Tuban merupakan salah satu kota di Jawa Timur yang cukup terkenal sejak jaman kerajaan Majapahit. Di kota tersebut juga terdapat Pondok Pesantren yang cukup terkenal yaitu Pondok Pesantren Langitan yang merupakan salah satu kawah candradimukanya ulama di Indonesia. Tuban Merupakan Kota Semen pada masa sekarang, Semen Gresik yang terkenal besar di Indonesia pada masa sekarang juga beroperasi dan mendirikan pabrik di daerah ini. Selain itu di Tuban juga terdapat beberapa industri skala internasional, terutama dibidang Oil & Gas. Perusahaan yang beroperasi di Tuban antaralain PETROCHINA (di kecamatan Soko) yang menghasilkan minyak mentah, serta ada juga PT. TPPI & PERTAMINA TTU (di kecamatan Jenu)

 Tuban memiliki banyak obyek wisata yang memiliki panorama cukup indah, di antaranya Gua Akbar, Masjid Agung Tuban, Makam Sunan Bonang, Ngerong Rengel, Pemandian Bektiharjo, Air Panas Prataan, Air Terjun Nglirip,Goa Suci,Makam Syeh Maulana Ibrahim Asmaraqandi dan Pantai Boom. 

Adapun cinderamata khas yang bisa kita dapatkan di sana antara lain batik tuban dengan motif yang sangat khas yaitu warna yang beragam. Motif khas ini juga bisa kita temui dalam bentuk kaos, baju wanita, dan selendang. Batik Tuban yang juga biasa disebut dengan batik gedog memiliki kemiripan dengan batik Cirebon terutama pada penggunaan benang pintal dan penggunaan warna merah dan biru pada proses pencelupan

 Disamping itu ada juga cinderamata berupa miniatur tempat berjualan Legen (minuman khas tuban) yang disebut "ONGKEK". Tuban juga terkenal sebagai kota Tuak yaitu cairan (legen)dari tandan buah pohon lontar (masyarakat menyebutnya uwit bogor) yang difermentasikan sehingga sedikit memabukkan karena mengandung alkohol.

Anda tertarik untuk datang ke Tuban..????
jangan lupa bawakan saya tuak batik gedog yang cukup fenomenal tersebut

Sunday, August 15, 2010

Seven Summit Merbabu

Seven Summit Merbabu


[http://pencerah.blogspot.com] Artikel ini adalah hasil copas dari note facebook-nya Bank Iwan Nepal, seorang tokoh kunci Turis Gunung Indonesia (TGI) yang dekat dengan penguasa Gunung Merbabu
Pada pertengahan 2004 bersama rekan rekan dari KOMPPAS sebagai volunteer resmi Gunung Merbabu jawa tengah jalur utara desa thekelan kecamatan getasan, dideklarasikan route pendakian yang dinamakan pendakian Seven Summit Gunung Merbabu atau bisa disebut pendakian 7 puncak gunung merbabu yang meliputi :
1. puncak watu gubug (setelah melalui pos pending, pos pereng putih, pos gumuk mentul dan
pos lempong sampan)
2. puncak pemancar
3. puncak helipad
4. puncak jembatan setan
5. puncak syarif
6. puncak ondo rante
7. puncak kenteng songo (titik triangulasi)

dari puncak kenteng songo dapat disaksikan keindahan gunung merapi. Route yang luar biasa dengan variasi visual dan topografi yang menakjubkan...
ayooo kunjungi dan nikmati tantangan pendakian 7 puncak gunung merbabu dan rasakan keramahan masyarakat desa Thekelan....

we love mountaineering...
 

Sunday, July 25, 2010

Green Valley - Lembah Hijau

Green Valley  - Lembah Hijau




-->
Kalau kita sering membaca kisah-kisah tentang suksesor di bidang IT, tentu kita akan teringat pada suatu tempat yang bernama Silicon Valley atau lembah silikon yang menjadi kiblat industri kreatif tersebut. Dan di dalam tulisan ini saya tidak akan membahas tentang Silicon Valley karena sangat kompleks dan multidimensional. Saat ini saya ingin membahas tentang Green Valley atau lembah hijau tempat dimana para ahli dibidang komputer dan internet peternakan, perikanan dan perkebunan berkumpul. Kalau Panjenengan ingin datang ke Lembah Hijau, silahkan datang ke Solo, tepatnya daerah Palur ke timur, kemudian ada pertigaan bangjo (lampu merah- maklum ndeso) belok kanan, lalu silahkan mengikuti papan petunjuk yang ada.
Dan dalam kunjungan perdana ini, saya sebenarnya hanya diajak oleh teman-teman dari Tim Inti Perencanaan Partisipatif (TIPP) Ds Karanggondang Kec Mlonggo Kab Jepara yang sedang mengadakan study banding dalam rangka Penataan Lingkungan Permukiman Berbasis Komunitas (PLPBK). Gambaran awal yang ada di benak saya, ditempat tersebut kami hanya akan disuguhi hijaunya suatu perkebunan yag di olah secara modern. Dan ternyata, tebakan saya meleset 50% karena hal pertama yang ditunjukkan kepada kami adalah Mbak Mawar yang berbaju kuning  kandang-kandang sapi yang dikelola secara modern.
Langsung saja ingatan saya tertuju pada Romo di rumah yang juga memelihara sapi bersama kelompok ternaknya. Hampir sama dengan yang ada di desa saya, kandang  yang ada disana dibuat secara permanen, sapi dikasih makan konsentrat + ampas tahu dan jerami kering, kotorannya ditampung untuk dijadikan pupuk dan biogas.  Akan tetapi setelah mendengarkan penjelasan dengan seksama, ternyata ada beberapa hal mendasar yang berbeda: makanan untuk sapi di Lembah hijau difermentasikan terlebih dahulu, pengolahan kotorannya lebih modern, kotorank langsung diolah menjadi kemasan-kemasan yang siap dan layak jual dan lain sebagainya.
Selain disuguhi kotoran sapi, dan produk-produk olahannya seperti susu, es krim dll kami, juga diperlihatkan pemeliharaan ikan Patin yang katanya tanpa lemak dan juga diberi kesempatan untuk menikmati bakso dan steak patin. Di sana kami juga diajak berkeliling melihat perkebunan yang diolah menggunakan pupuk organik yang mereka hasilkan sendiri.  Dan selama 3 jam berkeliling di sana banyak sekali ilmu yang bisa saya copy paste untuk dipraktekkan sendiri (kalau gak males).
Apakah diantara teman-teman ada yang tertarik berkunjung kesana untuk bertemu dengan sapi yang montok dan semok-semok?

Monday, July 19, 2010

Mebel Ukir Jepara

Mebel Ukir Jepara



[http://pencerah.blogspot.com] kalau mendengar kata "Jepara", ingatan kita pasti akan terpaut pada  dua hal, yaitu RA Kartini, seorang pahlawan wanita yang cukup terkenal serta kerajinan ukirnya. Memang selama beratus-ratus tahun, daerah Jepara terkenal sebagai daerah penghasil mebel bermotif ukir. Jika kita berjalan-jalan di seputar kota Jepara, memang dimana-mana akan terlihat aktifitas yang berkaitan dengan industri ukir tersebut..

Namun seiring berjalannya waktu, kerajinan ukir yang memerlukan bahan baku berupa kayu cukup besar ini mengalami penurunan. Salah satu penyebabnya adalah over production atau produksi yang berlebihan sebagai upaya untuk memenuhi permintaan eksport. Produksi yang terus digenjot tanpa diimbangi penyediaan bahan baku yang cukup ternyati menjadi momok yang cukup besar dalam industri ukir ini. 

Adapun sejarah munculnya seni ukir di Jepara ada banyak versi. Salah satunya adalah sebagai berikut :
Berdasarkan cerita sejarah, ukiran Jepara sudah ada sejak zaman Majapahit. Saat itu ada seorang seniman yang diminta untuk melukis tubuh dan wajah permaisuri raja di media kayu atau mengukir. Ternyata hasil lukisan di kayu tersebut sangat mirip dengan bentuk asli permaisuri. Dan ini bukannya membuat sang raja senang, tapi justru murka, karena ini mengartikan bahwa sang seniman sudah memahami betul secara detil bentuk tubuh dan wajah sang permaisuri.



Karena murkanya, sang raja mengusir seniman dan "melemparkannya" bersama alat-alatnya ke daerah yang kini dikenal Jepara. Sang seniman lantas melanjutkan hidupnya di Jepara dengan menjual produk mebel dan kerajinan tangan lainnya dengan ciri khas ukiran kayu. (www.suarakarya-online.com)
Yang jelas, sampai saat ini Kota Jepara masih terkenal di seluruh penjuru dunia sebagai pusat kerajinan ukir dengan motif yang sangat unik.
Kira-kira adakah yang mau datang kesini untuk diukir  ...?

Wednesday, March 3, 2010

The Batik Museum

The  Batik Museum



You want to knew more far about Indonesian batik?  If true, you could come to  The Pekalongan Batik museum in Central Java. This museum kept 800 more the old and modern batik collection as efforts to conserve the culture of the ancestors's inheritance. In this place, we could observe the development of batik beginning the Dutch time, the Japanese influence at the time of the Second World War with the motive Javanese Hokokai, there was also batik from outside Java especially Sumatra that was fat was affected by the Islam culture that apparently from the motive that resembled Arabian article calligraphy. Although having 800 batiks, only 300 collections that were displayed in this museum. Every time three months, batik was unloaded to be replaced with the other collection.

This museum collection quite interesting, we could see antique batik that his age reached 100 years more. There was also the blouse Encim that normally is worn by the woman tionghoa in Indonesia. Moreover, still many other interesting collections could be seen by you in this museum. 

 The building of   Museum Batik Indonesia , was built by making use of the second-hand building of the Pekalongan Town Hall. The building was reorganised to the Museum of Batik Indonesia, because of his building including old, that is built in the Dutch colonisation time. Inside, was gotten several rooms that were wide with the door and the big window, so as to be felt very much nuances of the high history.

The Pekalongan Batik Museum was located in the area of the Jatayu roundabout close to the road of Diponegoro The Pekalongan city Central Java. This area also was the symbol of the harmony between religious groups in the Pekalongan City that was built very good. By the Museum of Batik Pekalongan, was gotten the mosque with the background of the Church of Katholik Pekalongan. Around this region also stood the Protestan Church and the place of the follower's religious duties Tri Dharma.

Monday, February 22, 2010

The Plaosan Temple

The Plaosan Temple


Had you visited to the Plaosan temple
The Plaosan Temple was located in the village of Bugisan, the subdistrict of  Prambanan, the Klaten regency (Indonesia), around 4 km on the north-east of The Prambanan Temple (the Roro Djonggrang Temple). The Plaosan temple consisted of two main complexes, that is the Plaosan Lor Temple (north) and the Plaosan Kidul Temple (South) that only was separated by the highway. 

The Plaosan temple was established to the middle of the IX age or to be precise between the year 825-850. This temple was built by a Prince who was named Sri Kahuluan and was helped by Rakai Pikatan from the Sanjaya Dynasty. The Plaosan plan of the Temple complex have the shape of persegi long with the concept that was acknowledged as Yogini Yantra. The main building consisted of three rooms that was separated by the wall of the arbiter, respectively the room was gotten the statue that was placed in his niches.

The other uniqueness from The Plaosan Temple was architecture from the main building especially the parent temple Plaosan Lor was the stratified temple. Moreover, in this temple was gotten the Buddhist statue that was complete so as to be able to present the development of the Buddhist religion in Java.

Sunday, November 29, 2009

Candi Plaosan

Candi Plaosan

--> 

Pernahkah anda berkunjuung ke candi Plaosan ?
Candi Plaosan terletak di desa Bugisan Kecamatan Prambanan Kabupaten Klaten, sekitar 4 km di sebelah timur laut Candi Prambanan (Candi Roro Djonggrang). Candi Plaosan  terdiri dari  dua komplek utama, yaitu Candi Plaosan Lor dan Candi Plaosan Kidul yang hanya dipisahkan oleh jalan. raya dengan luas lahan 23.5 Ha.

Candi Plaosan didirikan pada pertengahan abad IX M atau tepatnya antara tahun 825-850 M. Candi tersebut dibangun oleh seorang raja perempuan yang bernama Sri Kahuluan dan dibantu oleh Rakai Pikatan dari Dinasti Sanjaya. Denah komplek Candi Plaosan berbentuk persegi panjang dengan konsep yang disebut Yogini Yantra. Bilik Candi induk terdiri atas tiga ruangan yang dipisahkan oleh dinding pemisah, dengan masing-masing bilik terdapat arca yang diletakkan di dalam relung-relungnya.   

Keunikan lain dari Candi Plaosan adalah arsitektur dari bangunan utama khususnya candi induk Plaosan Lor merupakan candi bertingkat. Selain itu, di candi ini terdapat arca Budha yang lengkap sehingga dapat mempresentasikan perkembangan Budhisme di Jawa.

Saturday, January 24, 2009

Jeng-Jeng ke Curug Sewu

Jeng-Jeng ke Curug Sewu



Bertahun-tahun mendengar namanya, baru saat ini diberi kesempatan untuk berkunjung ke salah satu keajaiban dunia Kendal yang bernama Curug Sewu. Untuk mencapai daerah tujuan wisata ini, harus melalui jalan mendaki, berliku-liku nan berkelok-kelok. Maklum saja lokasinya berada di daerah pegunungan kendal bagian selatan yang dikenal dengan daerah Sukorejo.

Seperti dengan namanya, atraksi utama yang terdapat di obyek wisata ini berupa air terjun yang lumayan besar dan tinggi (meskipun tidak setinggi Tawangmangu). Hanya saja pengunjung tidak diperkenankan "keceh" ke kalinya sehingga cukup melihat dari jarak jauh, foto-foto sebentar langsung balik.



Kalau melihat waktu tempuh yang lumayan jauh dari keramaian pengunjung tentu saja merasa kecewa kalau hanya menyaksikan atraksi tunggal tersebut. Seharusnya perlu dioptimalkan atraksi-atraksi pendukung yang lain misalnya taman buah, taman bunga, bumi perkemahan atau taman pacaran mengingat kondisi cuaca yang sejuk dengan banyak pepohonan yang hijau royo-royo
sehingga pengunjung akan lebih lama bertahan disana untuk beristirahat dan mengasah kata hati

Dan seperti biasa, yang namanya turis tidak akan puas kalo tidak menenteng kamera dan jeprat-jepret sana-sini. Ada poto air terjunnya, nongkrong di vespa raksasa dan tidak ketinggalan pose berdua dengan diajeng hehehehe.
Dan jangan bilang-bilang ke orang desa kalau kita cuma jeng-jeng, sebab kemarin kita pamitnya mau mengikuti pelatihan di kendal. Dan meskipun waktunya cukup singkat bisa dijadikan sebagai pencerah bagi pikiran setelah setiap hari ngurus pelatihan, lpj, pembangunan, pembukuan dll.

Bagi teman-teman yang mau maen kesana jangan lupa mengajak "Sing Mbaurekso Kota Kendal, Pakdhe Marsudiyanto biar nanti diantarkan kesana.
DOWNLOAD MOVIE