Friday, January 27, 2017

Tina Talisa, Moderator Debat Gubernur DKI Jakarta Tahap II

Tina Talisa, 
Moderator Debat Gubernur DKI Jakarta Tahap II


 
Tina Talisa
Tina Talisa. (VIVA.co.id/Syaefullah)
KPU DKI Jakarta akhirnya menunjuk Tina Talisa untuk menjadi moderator dalam debat Pilgub DKI Tahap II yang akan dilaksanakan pada hari jumat 27 Januari 2017 malam. Dalam debat kedua ini KPUD DKI Jakarta memang menghendaki adanya penyegaran sehingga mengganti moderator yang akan memandu jalannya debat dengan Tina Talisa dan Prof Eko Prasodjo, seorang ahli bidang kebijakan publik yang berasal dari FISIP UI.

Presenter yang wajahnya kerap menghiasi layar televisi di Indonesia di era tahun 2000-an ini memang terkenal dengan gaya lugasnya ketika membacakan berita di layar televisi. Jadi tidaklah mengherankan apabila presenter yang lahir pada tanggal 24 Desember 1079 ini memiliki banyak penggemar di Indonesia. Sebagaimana dikutip dari wikipedia, Tina Talisa yang merupakan alumni Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjajaran ini  pernah menjadi  finalis Puteri Indonesia 2003, juara I Mojang Jawa Barat 2003, dan juara I Mojang Kota Bandung 2002. Ketertarikannya dalam dunia penyiaran dimulai ketika dia bekerja di Radio Paramuda dan Radio Mustika. Kemudian karirnya betlanjut sebagai pembawa berita dalam Reportase Sore, program berita di Trans TV. Pada Mei 2007, pindah ke Lativi yang sejak tahun 2008 ini berubah menjadi tvOne sebagai asisten produser merangkap news presenter. Pada tanggal 1 Desember 2011, Tina Talisa secara resmi bergabung dengan Indosiar sebagai manajer pencari bakat dan pertunjukan, penyiar utama, cuaca, dan olahraga, dan pada 3 Mei 2015 Ia kembali muncul di layar kaca dalam program Satu Indonesia yang disiarkan di NET sebagai host.

Dalam debat kedua ini, Tina bersama Prof Eko Prasodjo akan memandu jalannya debat dengan tema Reformasi Birokrasi, Pelayanan Publik dan Penataan Perkotaan. Demi menjalankan perannya tersebut, Istri dari pengusaha Amrinur Okta Jaya ini telah melakukan berbagai persiapan antara lain: berguru pada moderator debat sebelumnya, Ira Kusno yang dianggap cukup berhasil dalam menjalankan tugasnya serta banyak membaca dan mendalami visi-misi ketiga pasangan calon Gubernur DKI Jakarta. Kendati banyak berkonsultasi dengan Ira Kusno, Tina Talisa akan tetap menggunakan gayanya sendiri ketika menjalankan tugasnya sebagai moderator. 

"Saya pikir Ira Koesno tampil sangat baik, karena menjadi Mbak Ira. Jadi saya Tina Talisa tidak akan tampil baik kalau saya bukan menjadi saya. Saya Tina Talisa punya kebiasaan sendiri dan gaya sendiri," kata Tina sebagaimana dirilis dari viva.co.id

Kita tunggu saja penampilan Tina Talisa, apakah bisa menghebohkan kembali time line netizen di Indonesia sebagaimana yang dilakukan oleh pendahulunya Ira Kusno dalam debat sebelumnya.

Tuesday, January 3, 2017

Ada di Manakah Kita...?

Ada di Manakah Kita...?


 Pada suatu ketika, ada seorang Direktur yang terkenal dengan kesuksesannya bertanya kepada seorang Ustadz yang cukup terkenal dengan kecakapan ilmu dan akhlaknya. 

"Ustad,  Kenapa ya..! Saya merasa bosan dengan hidup saya yang begini-begini  aja..!. Terasa hambar, tak ada arahnya, dan tak ada nikmatnya..! Bosan saya Ustadz..! Saya ingin bahagia tapi kenapa susah sekali ya ?".

Ustadz pun menjawab : "Oohh..! Mungkin saat ini Alloh juga lagi bosan dengan tuan."

Sang direktur pun terkejut dengan jawaban Pak ustadz. Dia lalu bertanya lagi:

"Alloh bosan dengan saya ?. Maksudnya bagaimana Ustadz?" Tanya si Direktur kembali dengan herannya.

Ustad menjelaskan:
 “Alloh telah mencari tuan di setiap saat, tapi tuan tak pernah ditemukan.
1.    Dicari di antara kumpulan Dhuha, tuan tak ada. Dicari di antara kumpulan Tahajjud ternyata Tuan juga tak ada.
2.    Kemudian dicari di antara kumpulan Puasa Sunah juga tak ada. Dicari di antara kumpulan sedekah, juga tak kelihatan.
3.    Lalu icari di antara kumpulan Tadarus Qur'an, tuan juga tak ada di sana. Dicari di antara kumpulan orang orang Umroh, niat pun tuan belum ada.
4.    Dicari di antara orang- orang yang Khusyuk Shalatnya, tuan juga tak ada. Dicari di antara Ahli Shalawat pun tak ada. Dicari di antara yang menuntut ilmu apa lagi.
lalu harusnya Alloh Swt mau mencari tuan di mana lagi...?. Coba tuan beritahu..!.  “

Mendengar jawaban dari ustad tersebut menangislah si Direktur tadi.  Sambil menangis sesengukan dan mengusap airmatanya, dia lalu ber-Istighfar. Teringat akan dosa-dosa yang telah dia perbuat dan amal-amal apa yang sudah dia lakukan.

Pembaca yang budiman, mungkin cerita tersebut di atas mirip dengan diri kita. Mirip dengan kondisi kita saat ini. Untuk itu, sebelum terlambat segeralah kembali kepada Alloh.....!. Pastikan bahwa kita berada di dalam catatan orang-orang yang suka beribadah kepada Nya. Dekatilah Alloh. Hanya Alloh sajalah ZAT yang bisa menenteramkan hidup kita.  Semoga pencerahan ini bisa mengetuk hati kita untuk kembali ke sisi dan jalan Allah


Sunday, January 1, 2017

Obat Sombong

Obat sombong 
 (Tulisan Khoirul Fahmi (Hafidz Quran) Alumni MAN Insan Cendekia Serpong mahasiswa Fakultas Kedokteran UGM)


Obat Sombong
Suatu sore, ketika saya sedang menyapu dan mempersiapkan masjid untuk dipakai jamaah sholat maghrib, ada seorang jamaah yang tiba-tiba bertanya,
“Masih kuliah, Mas? Jurusan apa? Dimana?” Tanyanya beruntun.

“Masih, Bu. Jurusan Pendidikan Dokter di UGM.” Jawab saya sambil tersenyum.

“Orangtuanya dokter juga, Mas?” Tanyanya lagi memastikan.

“Lho? Lha kuliahnya di Kedokteran, anaknya dokter, kok mau-maunya nyapu-nyapu masjid jadi marbot?” Protes beliau.
Mungkin dalam bayangannya, saya ndak pantas jadi marbot.
Saya hanya tersenyum mengiyakan sambil berkata,
“Ndak papa, kok, Bu.”

Sejujurnya, secara formal saya menjadi marbot baru beberapa bulan terakhir. Dua tahun sebelumnya, saya hanya diperbantukan sebagai pengajar di Rumah Tahfidz. Cuma karena kebetulan tempatnya tepat di sebelah masjid, ya saya selalu usahakan ketika luang membantu marbot ikut menjaga kenyamanan masjid. Jadi secara pekerjaan ya sudah hampir tiga tahun saya mengurusi masjid ini.

  Namun, ada alasan yang saya baru sadari kenapa saya harus mencintai kegiatan ini. Bahkan, saya lah yang butuh pekerjaan ini. Kenapa? Karena bagi saya membersihkan masjid, mencuci keset masjid, mengosek kamar mandi masjid, dan kegiatan lainnya itu mampu mengikis bibit-bibit kesombongan yang tumbuh dalam hati.

Ya, saya sangat takut menjadi sombong, bahkan yang tanpa sadar. Secara bahwa profesi dokter adalah profesi yang dihormati bahkan sejak pendidikan. Pun begitu saya hidup di lingkungan yang terhormat pula, sebagai guru Rumah Tahfidz. Ditambah dengan kelebihan lain yang Allah swt “pinjamkan” kepada saya. Praktis, saya menjadi sasaran empuk para setan dan bala tentaranya. Lebih tepatnya hati saya menjadi sasaran utama setan untuk menghancurkan akhlak dan keberkahan ilmu.

Maka, untuk mengikis setiap bibit penyakit hati yang tumbuh tadi, khususnya sombong, pekerjaan marbot lah yang akan membantu menghilangkannya.

Saya merasakan betul bagaimana efeknya. Jika saya semakin jarang melakukan pekerjaan marbot, maka semakin sering pula saya meremehkan kebaikan, amalan sunnah mulai longgar, dan lainnya.
Jika diteruskan lama-lama akan muncul sikap merendahkan orang lain. Sekalinya saya menekuni kembali, maka tiba-tiba beberapa hari kemudian saya seakan diringankan untuk kebaikan lainnya. Saya juga berusaha belajar dari dua kisah yang menarik berikut ini.

Diceritakan oleh Dr. Hasan Syafii, bahwa Syekh Muhammad Abduh setiap sebelum subuh, akan berjalan cepat menuju masjid Sayyidah Nafisah. Di sana beliau akan membersihkan kamar mandi masjid yang terkesan kotor dan jorok. Setelah itu, beliau kembali berangkat ke masjid Azhar untuk melaksanakan shalat Subuh sekaligus mengajar disana. Padahal, jarak masjid Azhar dan masjid Sayyidah Nafisah cukup jauh, dengan berjalan bisa mengambil waktu 30 menitan lebih.
Beliau bercapek-capek pergi ke masjid Sayyidah Nafisah hanya untuk membersihkan kamar mandi, padahal rumah beliau tidak jauh dari masjid al-Azhar. Hal itu beliau lakukan hampir tiap hari.

 Dr. Ahmad Umar Hasyim juga menceritakan dalam buku beliau, meriwayatkan dari Ahmad Mutawalli Sya’rawi, tentang ayahnya, Imam Asy-Sya’rawi, yang seorang mufassir dan dai.

“Ayah pernah diminta mengisi acara besar sejenis ceramah umum di Universitas Cairo. Selesai acara, semua hadirin takjub dengan pemaparan beliau. Saat mau pulang, mereka mengerumuni beliau saat menuju mobil, bahkan mobilnya dikerumuni massa hingga gerbang kampus.Setelah sampai di rumahnya di dekat masjid Husein RA., saat itu tiba waktu shalat, banyak orang yang masuk tempat wudhu dan kamar mandi. Mereka kaget luar biasa, karena mendapati ayah saya, Syekh Sya’rawi sedang membersihkan setiap sudut tempat wudhu dan kamar mandi.”

Mereka sontak bertanya kepada beliau, “Ada perihal apa sehingga beliau hingga melakukan hal itu?”.
Syekh Sya’rawi menjawab, “Saya baru saja mengisi acara di Universitas Cairo. Setelah acara, para audiens mengerumuni mobil saya. Saya takut ada perasaan takjub terhadap diri sendiri. Saya hanya ingin menghilangkan perasaan takjub itu.

Begitulah para ulama’ menjaga diri mereka dari bibit penyakit hati yang muncul. Saya yakin setiap orang memiliki caranya sendiri bagaimana menghilangkan bibit penyakit hati tersebut.
Saya memilih melakukan pekerjaan marbot sebagai cara saya untuk itu. Maka, jika mungkin kisah di awal tadi berulang, saya bisa menjawab atas alasan apa saya memilih untuk menjadi marbot.

Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari segala bentuk penyakit hati, sombong, ‘ujub, riya, sum’ah, hasad, dan keburukan yang ditimbulkan olehnya.