Tuesday, November 23, 2010

Indonesia Undersea

What scientists found when they surveyed the waters of the Raja Ampat Islands six years ago set off an international alert for their preservation. The archipelago's reefs were not just rich—the region would prove to have the greatest coral reef biodiversity for its size in the world. Even a short initial voyage confirmed more than 450 species of reef-building coral, nine newly discovered. The entire Caribbean, by contrast, holds fewer than 70 species. With so many of the world's reefs destroyed or suffering catastrophic decline, efforts to safeguard this treasure went into high gear.

One of the first divers to get an inkling of the abundance that lay below wasn't a scientist but an adventurer named Max Ammer, who came to the sparsely populated Raja Ampat Islands from the Netherlands in 1990 looking for abandoned jeeps and sunken aircraft from World War II. He stayed for the coral and carved out two eco-resorts on the small island of Kri. In 1998 he guided renowned Australian ichthyologist Gerry Allen on a few dives. "Each dive was a mini-exploration," says Gerry. "A light snapped on in my brain, and I thought: This is it."

Gerry lobbied Conservation International (CI) to conduct a marine survey. Both the region's remoteness and the political turmoil in Indonesia had made it difficult to study these waters systematically, but in 2001 Gerry was among the scientists gathered by CI to make a rapid assessment of Raja Ampat. His intuition had been spot-on. The survey brought Raja's fish species count to an astounding 970; Gerry set a record for personally counting 283 species on one dive. Follow-up surveys coordinated by CI and the Nature Conservancy added to Raja's species count in fish, corals, and other marine life, and confirmed that this biological frontier was an El Dorado of coral reefs.

But these are not all vacation-poster reefs bathed in bright, gentle waters. This is an unruly frontier. Fortified with plankton, key to the reefs' fecundity, the waters are often murky and veiled, churned by currents so powerful you feel as if you're diving in a washing machine and so dizzying with life that the scene could have been painted by Jackson Pollock.

As diving partner Jennifer Hayes and I swam over the lip of a reef off a rocky islet near Kri, the sea changed from lighthearted blue to brooding green. Purple fields of leather coral rippled as the current came at us like threatening gusts of wind. Reaching a protected undercut, we entered a grove of orange, red, and yellow sea fans surrounded by a pink and purple hedge of soft corals. Swarms of orange anthias fish hovered at the edge of the current, while a squadron of plate-size batfish patrolled the perimeter of the soft coral garden.

Running low on air, I pushed off to return to the boat and spun into the propelling current, one hand on my cameras, one hand stretching for the boat's ladder, which I caught like a trapeze artist. The islet itself was trailing a wake from the current whipping around it. It's easy to believe the local tale that during World War II the Americans bombed this islet at dusk, thinking it was a Japanese patrol boat steaming across the bay.
(© 2010 National Geographic Society. All rights reserved. )

Wednesday, November 10, 2010

Menoleh atau Berpalingkah Kita

Menoleh atau Berpalingkah Kita


Sumpah, tulisan ini bukan asli karya saya, melainkan copas dari note fesbuk sobat saya Kang Zee Noor (sebenarnya mau saya kasih skrinsut foto ybs, tapi takut beliaunya jadi terkenal hahahah).  Sebuah cerita yang sarat dengan makna bagi kita yang mau berfikir:

Seorang mandor bangunan yang berada di lantai 5 ingin memanggil pekerjanya yang lagi bekerja dibawah... Setelah sang mandor berkali-kali berteriak memanggil, si pekerja tidak dapat mendengar karena fokus pada pekerjaanya dan bisingnya alat bangunan... Sang mandor terus berusaha agar si pekerja mau menoleh keatas, di lemparnya uang 1000an yg jatuh tepat di sebelah si pekerja...

Si pekerja hanya memungut uang 1000 dan melanjutkan pekerjaanya... Sang mandor akhirnya melemparkan 100.000 dan berharap si pekerja mau menegadah sebentar ke atas... Akan tetapi si pekerja hanya lompat kegirangan karena menemukan uang 100.000 dan kembali bekerja... Pada akhirnya sang mandor melemparkan batu kecil yg tepat mengenai kepala si pekerja... Merasa kesakitan akhirnya si pekerja menoleh ke atas dan dapat bzee_progressive: Merasa kesakitan akhirnya si pekerja menoleh ke atas dan dapat berkomunikasi dengan sang mandor....

Cerita tersebut diatas sama dengan kehidupan kita. Tuhan selalu ingin menyapa kita, akan tetapi kita selalu sibuk bekerja. Kita di beri rejeki sedikit maupun banyak, sering kali kita lupa untuk menengadah bersyukur... Jadi jangan sampai kita mendapatkan batu kecil agar kita mau menoleh kepada Tuhan...
Salam...

Semoga bisa dijadikan sebagai bahan refleksi bagi kita, mengingat banyaknya bencana yang sedang melanda negara kita. Amien...

Saturday, November 6, 2010

Proyek Pembangunan Merapi

Proyek Pembangunan Merapi



Mengutip pernyataan dari (alm) Mbah maridjan bahwa sebenarnya Gunung Merapi tidak meletus, melainkan sedang membangun. Layaknya sebuah rumah, Gunung Merapi dihuni dan menjadi tempat berlindung bagi banyak makhluk hidup. Selain itu, Gunung Merapi juga menjadi sumber penghidupan bagi banyak makhluk hidup yang berada di sekitar gunung tersebut, bahkan sampai radius berpuluh-puluh kilometer dari kaki gunung.

Mengingat pentingnya gunung tersebut bagi kepentingan makhluk hidup, maka Sang Pemiliknya dalam kurun waktu tertentu melakukan perbaikan ataupun rehab. Apalagi seiring dengan pertambahan jumlah manusia yang hidup menggantungkan diri terhadap Merapi,perbaikan juga harus dilaksanakan sesering mungkin bahkan kadangkala tidak hanya rehap kecil,tapi juga rehap total.

Layaknya sebuah proyek pembangunan,tentu saja Sang Pemilik tidak menghendaki adanya gangguan dari makhluk hidup yang berada di sekitarnya. Kalau yang dibangun hanya gedung yang berukuran 0-1 Ha,mungkin cukup dengan membuat pagar seng agar orang yang tidak berkepentingan tidak berada di dalamnya. Karena Pemilik Gunung Merapi maha kuasa,maka Dia tidakperlu membuat pagar seng, cukup memerintahkan makhluknya untuk pergi sebentar dari lokasi gunung Merapi yang sedang membangun. Bagi hewan-hewan yang hidup di sekitar Merapi, perintah tersebut langsung ditindaklanjuti dengan agenda "turun gunung"

Berbeda dengan manusia, kendati sudah diperintahkan agar untuk sementara meninggalkan lokasi proyek kadangkala masih ada yang membandel. Dengan berbagai macam dalih mereka berani menentang perintah Pemilik Merapi. Jadi tidaklah mengherankan apabila banyak yang cidera terkena material proyek yang berjatuhan disekitar tempat itu. Apalagi mereka juga tidak mau mengenakan pengaman keselamatan diri seperti hlm,alas kaki,baju tebaldan lain sebagainya.

Semoga saja Proyek Pembangunan Merapi segera selesai,sehingga saudara-saudara kita bisa segera menempati kembali rumahnya, atau memanfaatkan barang-barang yang menjadi sisa pembangunan Merapi seperti pasir, batu dan lain sebagainya