Thursday, November 27, 2008

Arti Sebuah Pengorbanan dari Pohon Pisang

Hampir semua orang pernah makan atau hanya melihat pisang. Buah yang banyak tumbuh di seantero pelosok nusantara. Berbagai jenis makanan baik itu pisang goreng, pisang rebus, pisang bakar, jus pisang, tepung pisang, kolak pisang, dan lain-lain tentu tidak asing bagi kita.

Banyaknya pohon pisang yang tumbuh disekitar kita membuat kita merasa biasa saja bila melihatnya. Padahal ada suatu hal yang bisa kita renungi dari adanya pohon pisang tersebut.
Pohon pisang, seperti halnya lilin merupakan simbol dari suatu pengorbanan. Pohon pisang hanya bisa menghasilkan buah satu kali saja selama hidupnya. Setelah menghasilkan buah untuk dipergunakan oleh makhluk lain disekitarnya. Dengan kata lain, pohon pisang rela mati setelah dia menghasilkan buah -sesuatu yg berguna.

Cobalah kita renungkan. Selama kita hidup, apa yang sudah kita hasilkan bagi lingkungan sekitar kita ? Janganlah kita menunda-nunda untuk berbuat baik, sebab kita tidak tau kapan ajal akan menjemput kita. JANGAN SAMPAI HIDUP KITA SIA-SIA KARENA TIDAK MENGHASILKAN APA-APA.

Wednesday, November 19, 2008

Listrik...oh Listrik

LISTRIK..... OH LISTRIK

Suatu hari di suatu tempat:
Pukul 00-03.00 mati lampu. Bukan menjadi masalah besar karena sebagian besar manusia sudah terlelap di buai mimpi. Kecuali manusia-manusia kalong yang kecanduan internet maupun game online (yang katanya ada kenikmatan sendiri beraktivitas diatas jam 01.00 dini hari.
Pukul 08.00-12.00 Mati lampu lagi. Memang sech hari dah terang, sehingga tidak memerlukan penerangan dari lampu listrik. But, deadline laporan dah menunggu. Baru disusun setengah jam, lampu indikator laptop sudah kedip-kedip kehausan- “minta makan listrik”, katanya. Yach untung masih ada koran pagi. Sayup-sayup terdengar obrolan, gurauan dari rumah sebelah. Buruh-buruh konfeksi yang biasanya melantunkan melodi dari mesin jahitnya hanya bisa mengistirahatkan diri dan peralatan mereka.
Pukul 15.00-16.00 lagi-lagi mati lampu. Belum sempat mengisi air , mandi jadi tertunda.
18.30-20.00 sekali lagi mati lampu. Kapan adik-adikku belajar? Mau mengadakan pertemuan, tapi masih bingung juga, perlengkapan belum disiapkan. Kondisi tersebut akan berulang dalam kurun waktu beberapa hari sekali. Lengkap sudah penderitaan kita disini.
Mungkin apabila membaca gambaran tersebut diatas, pikiran kita terlintas pada suatu daerah yang terpencil, jauh dari kota besar dimana penduduknya terbiasa menyalakan lampu petromaks di malam hari. Kalau enggak, yang tergambar adalah situasi di tahun 80-an dimana banyak sekali daerah (terutama pedesaan) yang belum terjamah listrik.
Padalah, situasi tersebut menggambarkan kondisi saat ini, disuatu daerah yang diapit dua kota besar, di jalur pantura pula. Suatu daerah dimana banyak masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada kegiatan industri rumah tangga, yaitu konfeksi.
Kalau kita bandingkan dengan kebijakan pemerintah yang selalu menekankan penambahan modal dari investor asing, menggalakkan UKM, dan bla..bla..bla.. suatu kondisi yang ironis sekali. Gimana mau mencari investor asing, kalau mau mendirikan pabrik saja listriknya byar-pet. Bagaimana cara pengusaha konfeksi mau berkembang mengalahkan produk dari China kalau mau menjahit saja harus menggunakan mesin manual?
Apakah kita harus kembali lagi ke jaman bahula? Mengetik dengan mesin tik manual, menonton TV harus menggukakan aki, menjahit dengan menggunakan mesin kaki, memakai lampu petromax....
Kayaknya asyik dech...