Monday, October 27, 2008

Pernikahan dini dan Eksploitasi di sekitar kita


Akhir-akhir ini kita dihebohkan dengan adanya seorang milyarder yang menikahi gadis berusia 13 tahun. Bahkan berdasarkan pengakuan dari sang milyader tersebut dia juga akan menikah lagi dengan gadis yang berusia 7 dan 9 tahun. Beragam komentar dan pendapat yang muncul menegaskan seolah-olah itu adalah suatu masalah besar yang perlu dibahas oleh seluruh warga negara ini yang sebenarnya masih memiliki masalah lain yang lebih besar .

Seorang Kak Seto yang merupakan pemerhati masalah anak membuka kitab-kitab saktinya yang terangkum dalam Undang-Undang Perlindungan Anak. Dengan berbagai alasan beliau mengatakan bahwa hal tersebut melanggar kitab sucinya karena termasuk sebagai tindakan yang mengandung eksploitasi terhadap anak-anak. Menurut Kak Seto, anak-anak masih memiliki dunianya sendiri yang tidak boleh digugat oleh orang tuanya. Mereka masih butuh bermain, istirahat, bermanja2 dengan orang tua dan sahabat serta belajar hal-hal yang ada di sekitar mereka. Tentu saja kita semua membenarkan pernyataan dari Kak Seto yang pengetahuannya tentang anak melebihi pengetahuan orang tua anak tersebut.

Kalau kita melihat televisi, pasti mata kita dimanjakan oleh tontonan lucu nan menggemaskan yang disuguhkan dari anak-anak kecil yang bermain peran. Tiap hari sehabis magrib banyak sekali ibu-ibu yang menambatkan matanya di layar kaca demi melihat kelucuan dan kepolosan Si Baim (yang kalo ane taksir umurnya baru sekitar 3-4 tahunan). Dan apabila kita perhatikan masih banyak lagi baim-baim lain yang harus meninggalkan kebutuhan bermain, istirahat dan bermanja-manja dengan orang tua demi memanjakan mata pemirsa televisi. Mereka harus mengikuti syuting berjam-jam selama satu hari demi mengejar deadline yang kita berikan. Kita pasti tidak merasakan karena yang kita lihat adalah gambaran dari kelucuan anak kecil tanpa bisa melihat kondisi di balik layar.

Kembali ke pernikahan dini diatas. Beberapa ulama (bahkan Ketua MUI) mengecam pernikahan ala milyader di daerah Semarang tersebut. Berbagai dalil agama mereka keluarkan tetapi memalui perantara media cetak dan elektronik untuk melawan dalil dari Sang milyader. Suatu hal yang berbeda dengan perlakuan beberapa oknum orang yang menghalalkan “Kawin Kontrak” untuk menutupi prostitusi di beberapa sudut wilayah negeri. Kawin Kontrak dan Kawin di bawah umur apabila dilakukan secara membabi-buta akan memunculkan eksploitasi-eksploitasi baru. Kedua tindakan tersebut, bukanlah suatu permasalahan apabila pelaku-pelakunya merupakan orang yang benar-benar mengerti ajaran agama.

Kalau kita mau berfikir, tentu vonis eksploitasi tidak hanya kita jatuhkan kepada Si Milyader dari Semarang saja, tetapi juga kepada pelaku-pelaku industri pertelevisian-dan kalau mau jujur, kita juga harus dipersalahkan karena ikut membantu dan mendukung usaha mereka. Juga kepada ahli-ahli agama yang lain yang telah melegalkan kawin kontrak padahal mereka tahu kalau tujuannya adalah nafsu.

Kalau kita mau adil, kita tentu tidak akan melihat satu kasus dari satu sisi saja atau menilai suatu kejadian dengan kacamata emosi dan infotainment. Jangan melihat siapa yang melakukan, tapi lihat juga kenapa dia melakukan.

Kalau Bukan dari kita, dari siapa lagi ?

Klegen, 26 Okt O8

Sunday, October 12, 2008

PENDIDIKan & PERUBAHAN SIKAP

PENDIDIKan & PERUBAHAN SIKAP


Dunia pendidikan perguruan tinggi kembali tercoreng dengan adanya praktek-praktek kotor penipuan. Kalau sebelumnya penipuan cenderung mengarah dalam bentuk plagiasi, sekarang sudah meningkat ke arah pemalsuan dokumen-dokumen pendukung. Terbongkarnya kasus mahasiswa FK Undip yang mendaftar menggunakan dokumen palsu merupakan salah satu ekses dari adanya perubahan paradigma yang dimiliki oleh masyarakat indonesia, termasuk kaum intelektualnya.
Pendidikan- termasuk pendidikan tinggi merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan dan mengoptimalkan kemampuan dasar yang dimiliki oleh setiap manusia. Pendidikan sebenarnya tidak harus di wujudkan dalam bentuk pendidikan formal, semi formal dan informal. Pendidikan formal dalam hal ini adalah pendidikan yang ada dalam institusi sekolah, pendidikan informal bisa diperoleh melelui pelatihan, kursus, seminar dan lain-lain sedangkan pendidikan informal bisa didapat dalam kehidupan sehari-hari.

pelatihan merupakan salah satu bentuk pendidikan semi formal

Setiap manusia (yang normal) dikaruniai indra yang bisa digunakan sebagai alat untuk melihat, mendengar, merasakan, berbicara, berfikir, memilah yang nantinya akan berujung menjadi sebuah tindakan. Proses melihat, mendengar, merasakan sampai dengan munculnya tindakan sebenarnya adalah suatu pendidikan juga.

Berfikir merenungi keindahan alam merupakan
bagian dari proses pendidikan juga



Proses-proses tersebut akan terus terasah dan terus berkembang seiring dengan kematangan manusia dalam melakukan proses tersebut. Dan sebenarnya proses tersebutlah yang dilaksanakan oleh seluruh manusia dalam menempuh pendidikan baik itu formal, semi formal dan informal.


Yang menjadi suatu permasalahan, pada saat ini masyarakat hanya berpandangan bahwa pendidikan hanya terdiri dari pendidikan formal saja. Oleh karena itu tidaklah mengherankan apabila indikator keberhasilan pendidikan hanya dilihat dari selembar kertas yang disebut ijazah. Dan itu tidak hanya terjadi dalam lingkup individual masyarakat saja, tetapi secara institusional kenegaraan juga. Tidak heran apabila demi selembar ijazah ada orang yang berani menghabiskan uang yang cukup besar. Jual beli ijazah merupakan suatu hal yang biasa.
Kita seakan-akan sudah lupa apabila tujuan utama dari pendidikan sudah bergeser. Pendidikan yang indikatornya diukur dari adanya perubahan sikap dan tingkah laku, sekarang bergeser menjadi nilai dan angka. Oleh karena itu tidaklah mengherankan apabila seorang yang pada saat ini dianggap sukses dan berhasil dalam mengikuti pendidikan (yang diwakili oleh sarjana-sarjana dan kaum intelektual lain) masih berprilaku selayaknya orang yang belum mendapatkan pendidikan. Hukum rimba yang notabene diperuntukkan bagi makhluk yang tidak memiliki akan dan pikiran diberlakukan. Korupsi, kolusi, nepotisme, penipuan, kriminalitas, individualistis, saling injak sana-sisi merupakan makanan sehari-hari mereka. Baik itu saat mendapatkan selembar ijazah, memanfaatkan ijazah sampai dengan pada saat mencari pengganti bagi uang yang telah mereka habiskan untuk mendapatkan ijazah (di dunia kerja).

Wisuda, bukanlah akhir dari pendidikan

Apabila perubahan masih diinginkan untuk menyelamatkan bangsa ini, maka salah satu tatanan yang harus diubah adalah berkaitan dengan pendidikan. Sudah saatnya pemerintah, pihak swsta dan keseluruhan masyarakat menempatkan pendidikan sesuai fitrahnya yaitu sebagai instrumen pengubah perilaku dan sikap manusia dari yang kurang baik menjadi baik dan dari manusia baik menjadi manusia yang lebih baik.

Kalau bukan dari kita, dari siapa lagi ?

MENIKAH DIATAS MUSIBAH

MENIKAH DIATAS MUSIBAH


Dalam sudut pandang agama, menikah merupakan salah satu bentuk ibadah. Mungkin kita membayangkan sebagai ibadah yang paling mengenakkan karena didalamnya mengandung suatu malam yang paling indah. Pernikahan yang diikuti dengan pesta biasanya dibuat dengan meriah dan mewah. Tak peduli menghabiskan berapa rupiah, yang penting semua tampak megah.

Beberapa hari yang lalu, kita dihebohkan dengan adanya pesta pernikahan yang konon –katanya menghabiskan dana bermilyar-milyar rupiah (Bayangkan saja bila dibelikan kwaci bunga matahari, pasti semua rakyat indonesia akan bisa merasakan rasa asinnya). Tapi berhubung si empunya yang punya hajat mampu ya bagaimana lagi, kita hanya bisa menonton sambil membayangkan akankah pernikahan kita (anak kita) kelak bisa mengikuti mode seperti itu. Jika dipikir-pikir memang layak, terlahir sebagai keluarga pengusaha yang kaya raya berbagai fasilitas tentu bisa didapat dengan mudah. Kemenakan dari orang paling kaya dimana orang (yang seharusnya) nomor satu di negara kitapun bisa tunduk dibawah manis ketiaknya.

Bukannya iri atau dengki dengan pesta (atas) peribadatan tersebut, tetapi apabila mengingat sepak terjang bisnis keluarga pengusaha tersebut pasti kita semua akan merasa muak. Keuntungan usaha yang diperoleh dengan cara merampas hak-hak orang lain digunakan untuk bersenang-senang dan menjamu penguasa-penguasa negeri yang seharusnya melindungi rakyatnya.

Mereka tidak sadar jika makanan yang disajikan di piring-piring mereka sebenarnya adalah daging rakyat yang ditaburi tepung dari lumpur. Mereka tidak akan mampu merasakan jika makanan tersebut dimasak dan digoreng menggunakan lumpur hitam yang dipaksakan menjadi minyak. Mereka seharusnya muntah jika tahu kalau minuman yang tersulang di tangan-tangan mereka adalah perasan keringat masyarakat yang menuntut pengembalian harta-harta paling berharga yang dimilikinya.

Dan saya yakin kalau sepasang pengantin baru yang sedang berasyik-asyik menikmati malam pertamanya, tidak menyadari kalau gerakan-gerakan yang mereka lakukan bersumber dari dukungan tangan-tangan yang menengadah di sepanjang jalan untuk mendapatkan sesuap makanan. Mereka pasti tidak menyadari kalau cairan-cairan yang mereka hasilkan telah menenggelamkan harapan bagi sekelompok orang yang justru tidak bisa merasakan kenikmatan-kenikmatan sebagaimana mereka rasakan.

Semoga Yang Di Atas bisa mendengar doa orang-orang yang teraniaya oleh saudara-saudara mereka.